Jejak Pasukan Melayu Jambi di Desa Jambi, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk
Pendahuluan: Desa Jambi yang Tak Sekadar Agraris
Sekilas, Desa Jambi di Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur tampak sama seperti desa-desa tetangga: hamparan sawah luas, kehidupan agraris yang tenang, dan tidak ada bangunan megah yang mencolok.
Namun, jika diamati lebih teliti, desa ini menyimpan jejak sejarah panjang yang menghubungkannya dengan Kerajaan Melayu Kuno (Melayu/Jambi) dan peristiwa besar pada abad ke-10 Masehi. Jejak tersebut muncul dalam bentuk peninggalan fisik dan toponimi yang masih lestari hingga kini.
Peninggalan Fisik yang Masih Dapat Ditemukan
Beberapa sisa peninggalan kuno di Desa Jambi yang diceritakan warga setempat:
- Batu bata besar berukuran tidak biasa — Banyak ditemukan secara sporadis, terutama di sekitar penggilingan padi hingga ke arah utara. Penduduk memanfaatkannya untuk pondasi rumah, pagar, dan bangunan lain. Ukuran dan kualitasnya menunjukkan bukan bata biasa dari masa kolonial atau modern.
- Lumpang batu besar di tengah sawah — Satu-satunya yang tersisa dan belum “hilang”. Warga masih menganggapnya keramat dan sering digunakan dalam ritual tertentu.
- Palung/pematang sawah rendah yang sangat lebar (>50 meter) membujur selatan–utara, yang diyakini sebagai bekas Bangsawan Brantas atau jalur penting pada masa lampau (kemungkinan bekas sungai/kali buatan atau jalur transportasi air masa kerajaan).
Latar Belakang Sejarah: Invasi Melayu ke Jawa Timur ~927–929 M
Pada sekitar tahun 927–929 M, Kerajaan Melayu (yang saat itu berada di bawah pengaruh kuat Sriwijaya) mengirimkan armada besar dari Tanah Melayu (Jambi) menuju Jawa Timur. Rute yang ditempuh:
- Menyusuri pantai utara Jawa
- Memasuki muara Bengawan Brantas
- Meneruskan perjalanan hingga ke pelabuhan-pelabuhan penting seperti Ujung Galuh dan Bandar Alim
Kedatangan pasukan dalam jumlah besar membuat wilayah tersebut tiba-tiba ramai. Tempat persinggahan dan markas utama inilah yang diyakini menjadi asal nama Desa Jambi saat ini.
Peristiwa ini terkait erat dengan Prasasti Anjuk Ladang (859 Saka / 937 M) yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok (Raja Sri Isyana), pendiri Dinasti Isyana dan penggagas perpindahan pusat Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Prasasti Anjuk Ladang: Kemenangan, Rekonsiliasi, dan Persatuan
Prasasti Anjuk Ladang (juga disebut Prasasti Candi Lor) menceritakan kemenangan Mpu Sindok atas pasukan Malayu. Namun, kemenangan ini bukan pemusnahan total, melainkan diakhiri dengan rekonsiliasi.
Alasan rekonsiliasi menurut penafsiran sejarah lokal dan beberapa sumber:
- Perang berkepanjangan akan sangat menguras sumber daya
- Adanya ikatan historis: kaum Malayu (Syailendra) dianggap memiliki hubungan darah/saudara dengan dinasti Sanjaya-Medang
Ada dua pilihan bagi pasukan Melayu yang kalah:
- Kembali ke Swarnabhumi (Sumatra/Melayu)
- Tetap tinggal, mengabdi pada Kerajaan Medang, dan hidup berdampingan secara damai
Banyak yang memilih opsi kedua. Markas mereka di daerah yang kini menjadi Desa Jambi tetap dipertahankan sebagai pemukiman. Wilayah utaranya kemudian disebut Nglayu (kini Ngluyu), tempat mereka menyimpan harta warisan: perhiasan emas, koin Dinasti Tang, manik-manik, dan artefak khas Muaro Jambi.
Sebagai simbol persatuan Siwa-Buddha (Sanjaya-Syailendra), Mpu Sindok membangun candi peribadatan Sang Hyang Prasadha Kabhaktian yang boleh digunakan oleh penganut Buddha (termasuk eks-pasukan Melayu). Disebutkan pula adanya 90 arca perunggu Buddha di kompleks tersebut.
“… parnnaha nikanaŋ lmah uŋwana saŋ hyaŋ prasada atêhêra jaya[sta]mbha wiwit matêwêkniraŋlahakan satru[nira] [haj]ja[n] ri [ma]layu”
Prasasti asli kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia Jakarta dengan nomor inventaris D.59.
Penutup: Warisan yang Hidup Hingga Kini
Desa Jambi dan sekitarnya (termasuk Ngluyu) adalah bukti hidup bahwa sejarah tidak selalu tentang kemenangan dan kekalahan, tetapi juga tentang integrasi dan rekonsiliasi. Jejak pasukan Melayu Jambi yang datang hampir 1.100 tahun lalu masih terasa melalui nama desa, peninggalan batu bata, lumpang keramat, dan cerita turun-temurun masyarakat.
Jambi bukan hanya nama sebuah kota di Sumatra, tetapi juga warisan yang tertanam di tanah Jawa Timur — negeri Wangsa Syailendra Swarnabhumi, tanah pusaka betuah, negeri lamo negeri Melayu tuo.
Sumber & Referensi
- Wikipedia – Prasasti Anjuk Ladang
- Kata Fakta – Desa Jambi di Tanah Jawa
- Blog Resmi Desa Jambi – Sejarah Desa
- Catatan sejarah klasik: J.G. de Casparis, L.C. Damais, dan Boechari (penelitian tentang perpindahan Mataram dan serangan Melayu)
- Artikel pendukung: Simbur Sumatera, Pusaka Jawatimuran, dan berbagai catatan lokal Nganjuk
Apakah Anda punya foto lumpang batu, batu bata kuno, atau cerita tambahan dari warga Desa Jambi? Silakan share di kolom komentar! Mari lestarikan sejarah bersama.

