LETTU (U) SOEWONDO: Sepenggal Kisah Pemberontakan PRRI

Lettu (U) Soewondo adalah salah seorang pilot AURI yg turut serta dalam operasi udara dalam konflik pemberontakan PRRI di Sumatra.

18 Maret 1958, dalam suatu operasi menghadapi kekuatan Batalyon Nainggolan PRRI di basis pertahanannya di daerah Tapanuli, pasukan darat Pemerintah Pusat kesulitan menembus pertahanan mereka, dan meminta bantuan tembakan dan pengeboman lewat udara. AURI mengirim beberapa B-25 beserta P-51 sebagai bantuan, salah satu pilotnya adalah Lettu Udara Soewondo. Kamuflase yang cermat dari pasukan Nainggolan atas senjata2 berat mereka, membuat mereka terhindar dari kehancuran dari serangan udara tersebut.

Nasib malang menimpa Lettu Udara Soewondo, sayap pesawatnya terkena senjata penangkis serangan udara PRRI. Dalam kondisi asap hitam mengepul, pesawat Soewondo tidak menghindar ke daerah aman, namun justru tetap terbang ke arah musuh sambil memberondongkan peluru ke posisi lawan. Meski Mustang Soewondo masih terbang stabil dan tetap bertempur, riuhnya tembakan arhanud PRRI membuat pesawat P-51 ini jadi sasaran dan bulan-bulanan.

Akhirnya sebelum hancur berkeping-keping di daratan, Soewondo masih sempat mengarahkan pesawatnya ke arah konsentrasi meriam-meriam lawan dan meledak disitu, membawa serta hancurnya meriam-meriam PRRI.

Kisah versi 1 : banyak dikutip di surat kabar

“Jenazah Letnan Soewondo selanjutnya dikeluarkan oleh pasukan PRRI dari reruntuhan Mustang dan diperlakukan secara baik dan diserahkan ke pasukan APRI
Banyak pasukan PRRI yang memberi salut dan hormat terhadap kegigihan dan keberanian Soewondo”

Kisah versi 2 :
Dalam kisah versi lain dalam buku biografi Marsekal Roesmin Nurjadin disebutkan bahwa Letnan Soewondo crash landing di posisi lawan dan sempat keluar dengan selamat namun di-eksekusi mati oleh tentara PRRI. Pak Roesmin Nurjadin sbg pemimpin Skuadron 3 Mustang sangat marah dan memerintahkan penggunaan bom napalm, namun dilarang keras oleh KSAU Pak Suryadarma krn ini melanggar Konvensi Jenewa.

Atas jasa-jasanya, pangkatnya dinaikkan 1 tingkat menjadi Kapten Udara secara Anumerta dan memperoleh Bintang Sakti dari Presiden RI Soekarno.
Note : thn 1958 istilah anumerta adalah “Posth” alias posthumuosly.
Pada tahun 2013, namanya diabadikan utk lanud Medan.

SOURCE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *