Mengenal Lebih Dekat Imposter Syndrome

Imposter Syndrome adalah perasaan seseorang yang menganggap bahwa prestasi yang dicapainya hanyalah kebetulan, bukan dari hasil kerja kerasnya sendiri. Perasaan itu berbentuk ketidakpercayaan lagi pada diri sendiri, sehingga sadar atau tidak, tindakan yang diambilnya justru membawanya kepada hal-hal yang menghancurkan reputasi.

Lalu Bagaimana caranya menghindari imposter syndrome tersebut?

  • Koreksi diri sendiri dulu, apakah kita telah terkena gejala Imposter Syndrome atau sindrom imposter ini? Bila kita merasa segala pujian orang buat diri kita melebihi diri kita yang sebenarnya, bila kita takut suatu ketika orang akan mengetahui siapa kita sebenarnya dan melontarkan cemoohan, lalu kita mulai meragukan diri sendiri, itulah gejala Imposter Syndrome. Atasi segera, sebab anak akan melihat dan meniru. Mereka itu benar-benar peniru ulung lho.
  • Ajarkan anak untuk tidak terlalu menyalahkan dirinya bila hasil yang ia inginkan tidak mulus tercapai. Sebab penelitian Psikologi-Kognitif menemukan bahwa gejala Imposter Syndrome kecil kemungkinan terjadi pada orang yang mempunyai Sikap A dibanding Sikap B. Sikap A adalah menganggap bahwa semua prestasi yang dicapainya akibat faktor internal (kemampuan dan usaha), sementara semua kegagalan yang dialami akibat faktor eksternal (tugas yang terlalu sulit dan ketidakberuntungan). Sikap B adalah kebalikannya: menganggap bahwa semua prestasi yang dicapainya akibat faktor eksternal, sementara kegagalan yang ia derita akibat faktor internal.
  • Dorong anak untuk lebih percaya diri (caranya banyak). Sebab penelitian DR Jagacinski menunjukkan, orang yang cenderung mengalami Imposter Syndrome menolak melakukan sesuatu bila menurutnya hal itu akan membuatnya tampak lemah dan nggak keren.
  • Waspada bila sikap anak terlalu merendah di depan orang lain. Secara kasar bisa dibilang sikap rendah hati bukan sikap alamiah anak-anak. Secara sadar atau tidak bersikap terlalu merendahkan diri di depan orang lain tujuannya agar mendapat predikat “Baik” atau “Rendah Hati” di depan orang lain. Namun sikap seperti ini berbahaya. DR Mark Leary dari Wake Forest University menerangkan bahwa pada diri orang yang sengaja merendahkan diri, lama-kelamaan akan tertanam pikiran bahwa dia memang tidak sebaik yang dikira orang lain.

SUMBER

Leave a Reply

Your email address will not be published.